Selasa, 31 Agustus 2010

Hikmah Puasa


Idul Ftri Sebagai Awal Peningkatan Ketaqwaan

Text Box:  Ramadhan akan segera pergi meninggalkan kita, bukan berarti berakhir pula suasana ketaqwaan kepada Allah SWT.  Justru tugas berat menenti kita untuk membuktikan keberhasilan ibadah Ramadhan yang telah kita jalani dengan peningkatan ketaqwaan kepada Allah SWT, karena bulan sesudah Ramadhan adalah Syawwal yang mempunyai arti peningkatan. Nah, disinilah letak pentingnya melestarikan nilai-nilai Ibadah Ramadhan. Ada sedikitnya lima nilai ibadah Ramadhan yang bisa kita lestarikan.
Pertama, tidak mudah berbuat dosa. Ibadah Ramadhan yang kita kerjakan dengan baik membuat kita mendapat jaminan ampunan dari dosa-dosa yang kita lakukan selama ini, karena itu setelah melewati ibadah Ramadhan nanti semestinya kita tidak mudah lagi melakukan perbuatan dosa, apalagi secara harfiyah Ramadhan artinya membakar, yaitu membakar dosa. Kalau dosa itu kita ibaratkan seperti pohon, maka bila sudah dibakar, pohon itu tidak mudah tumbuh lagi atau mati. Dengan demikian, jangan sampai kita melakukan perbuatan dosa apalagi dengan kualitas dan kuantitas yang lebih besar.
Kedua, nilai ibadah Ramadhan yang harus kita lestarikan adalah hati-hati dalam bersikap dan bertindak. Selama beribadah Ramadhan, kita selalu berhati-hati dalam melakukan sesuatu, karena tidak ingin ibadah Ramadhan kita menjadi sia-sia. Secara harfiyah, Ramadhan juga berarti mengasah, yakni mengasah ketajaman hati agar dengan mudah membedakan antara yang haq dengan yang bathil. Ketajaman hati inilah yang akan membuat seseorang menjadi sangat berhati-hati dalam bersikap dan bertingkah laku. Sikap ini sangat penting dalam hidup, sehingga seorang muslim tidak asal melakukan sesuatu hanya sekadar mendapat nikmat secara duniawi. Kehati-hatian ini menjadi amat penting mengingat apapun yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah SWT, karenanya apa yang hendak kita lakukan harus kita pahami secara baik dan dipertimbangkan secara matang, sehingga tidak sekadar ikut-ikutan dalam bertindak.
Nilai ibadah Ramadhan ketiga adalah jujur. Ketika kita berpuasa Ramadhan, kejujuran selalu mewarnai kehidupan kita sehingga kita tidak berani makan dan minum meskipun tidak ada orang yang mengetahuinya. Karena itu, setelah berpuasa Ramadhan semestinya kita mampu menjadi orang-orang yang selalu berperilaku jujur, jujur dalam perkataan, berinteraksi dengan orang, berjanji dan segala bentuk kejujuran lainnya. Dalam kehidupan masyarakat dan bangsa kita saat ini, kejujuran merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Banyak kasus di negeri kita yang tidak cepat selesai bahkan tidak selesai-selesai karena tidak ada kejujuran, orang yang bersalah sulit untuk dinyatakan bersalah karena belum bisa dibuktikan kesalahannya, padahal kalau yang bersalah itu secara jujur mengaku bahwa dia bersalah, tentu dengan cepat persoalan bisa selesai. Tapi karena kejujuran itu tidak ada, yang terjadi kemudian adalah saling curiga mencurigai bahkan tuduh menuduh yang membuat persoalan semakin rumit. Ibadah puasa telah mendidik kita untuk berlaku jujur kepada hati nurani kita yang sehat dan tajam, bila kejujuran ini tidak mewarnai kehidupan kita, maka tarbiyyah (pendidikan) dari ibadah Ramadhan kita menemukan kegagalan, meskipun secara hukum ibadah puasanya tetap sah.
Keempat adalah memiliki semangat berjamaah. Kebersamaan kita dalam proses pengendalian diri membuat syaitan merasa kesulitan dalam menggoda manusia sehingga syaitan menjadi terbelenggu pada bulan Ramadhan. Hal ini diperkuat lagi dengan semangat yang tinggi dalam menjalankan shalat lima waktu secara berjamaah sehingga di bulan Ramadhan inilah mungkin shalat berjamaah yang paling banyak kita laksanakan, bahkan melaksanakannya juga di masjid atau mushalla. Disamping itu, ibadah Ramadhan yang membuat kita dapat merasakan lapar dan haus, telah memberikan pelajaran kepada kita untuk memiliki solidaritas sosial kepada mereka yang menderita dan mengalami berbagai macam kesulitan, itupun sudah kita tunjukkan dengan zakat yang kita tunaikan. Karena itu, semangat berjamaah sesudah Ramadhan nanti mestinya menjadi lebih baik, apalagi kalau kita sadari bahwa siapapun orangnya tidak mungkin bisa hidup sendirian. Sehebat apapun kekuatan dan potensi diri, kita tetap sangat memerlukan pihak lain.
Nilai ibadah Ramadhan kelima yang harus kita lakukan sesudah Ramadhan berakhir adalah melakukan pengendalian diri dari hal-hal yang pokok seperti makan dan minum. Kemampuan kita dalam mengendalikan diri dari hal-hal yang pokok semestinya membuat kita mampu mengendalikan diri dari kebutuhan kedua dan ketiga, bahkan dari hal-hal yang kurang pokok dan tidak perlu sama sekali. Namun sayangnya, banyak orang telah dilatih untuk menahan makan dan minum yang sebenarnya pokok, tapi tidak dapat menahan diri dari hal-hal yang tidak perlu, misalnya ada orang yang mengatakan: “saya lebih baik tidak makan daripada tidak merokok”, padahal makan itu pokok dan merokok itu tidak perlu. Kemampuan kita mengendalikan diri dari hal-hal yang tidak benar menurut Allah dan Rasul-Nya merupakan sesuatu yang amat mendesak, bila tidak, kehidupan ini akan berlangsung seperti tanpa aturan, tak ada lagi halal dan haram, haq dan bathil, bahkan tak ada lagi pantas dan tidak pantas atau sopan dan tidak. Yang jelas, selama manusia menginginkan sesuatu, hal itu akan dilakukannya meskipun tidak benar, tidak sepantasnya dan sebagainya. Bila ini yang terjadi, apa bedanya kehidupan manusia dengan kehidupan binatang.
Dengan demikian, harus kita sadari bahwa Ramadhan merupakan bulan pendidikan dan latihan yang berkesinambungan dan berkelanjutan bagi orang-orang yang beriman yang menghantarkannya pada puncak nilai-nilai kemanusiaan yang disebut dengan taqwa. keberhasilan ibadah Ramadhan tidak hanya terletak pada amaliyah Ramadhan yang kita kerjakan dengan baik, tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana menunjukkan adanya peningkatan taqwa yang dimulai dari bulan Syawal hingga Ramadhan di tahun yang akan datang.
Sumaryadi
MI Negeri Grogolpenatus Kec. Petanahan
Kab. Kebumen

Tidak ada komentar: